Senin, 04 Juni 2018

Pengertian Fungsi Konsumsi dan Tabungan – Adalah mari kita bahas dengan materi dibawah ini



Pengertian Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
Konsumsi adalah bagian pendapatan yang dibelanjakan untuk kebutuhan konsumsi. Tabungan adalah bagian pendapatan yang tidak dikomsumsi. Jadi, besarnya pendapatan akan sama dengan besarnya konsumsi ditambah dengan tabungan (Y = C + S ).

Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara sifat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dan pendapatan nasional (atau pendapatan disposable) perekonomian tersebut. Fungsi tabungan adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat tabungan rumah tangga dalam perekonomian dan pendapatan nasional (atau pendapatan disposable) perekonomian tersebut. Jadi, baik dalam hukum psikologi konsumsi dari Keynes dikemukakan, Setiap pertambahan pendapatan akan menyebabkan pertambahan konsumsi dan pertambahan tabungan (saving).

Apabila fungsi konsumsi dan fungsi tabungan ditulis dalam notasi fungsi, bentuk umumnya seperti berikut.

Pengertian Fungsi Konsumsi dan Tabungan


Keterangan C = Konsumsi
S = Saving (tabungan)
Y = Pendapatan

Dalam bentuk persamaan linear akan berbentuk.

Fungsi Konsumsi dan Tabungan


Keterangan:
a = Konsumsi otonomi, yaitu besarnya konsumsi pada saat pendapatan nol.
a dapat dicari dengan rumus a = (APC–MPC) Yn APC = C Y
b = Hasrat mengonsumsi marginal (Marginal Propencit to Consume) atau MPC.

(1–b) = Hasrat menabung marginal (Marginal Propencit to Save) atau MPS.

Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan merupakan garis lurus, dan ini disebabkan nilai MPC dan MPS tetap. Seterusnya kecondongan fungsi konsumsi adalah kurang dari 45 dan selalu memotong garis 45 . Sifat ini disebabkan MPC lebih kecil dari satu. Fungsi konsumsi memotong garis 45 pada nilai pendapatan nasional sebanyak Rp 360 triliun karena pada tingkat pendapatan itu konsumsi rumah tangga = pendapatan nasional. Fungsi tabungan memotong sumbu datar pada pendapatan nasional sebanyak Rp 360 triliun karena pada pendapatan ini tabungan rumah tangga = 0.



Hasrat Mengonsumsi (Marginal Propensity to Consume/ MPC)
MPC merupakan perbandingan antara tambahan konsumsi dan tambahan pendapatan, atau dapat ditulis dengan rumus:

Hasrat Mengonsumsi (Marginal Propensity to Consume/ MPC)




Fungsi Tabungan
Pendapatan dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya Y = C + S.

Keterangan:
S = saving (tabungan)
Karena Y = C + S maka S = Y – C
Jika kita subtitusikan dengan fungsi konsumsi, maka:
S = Y – C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y



Hasrat untuk Menabung (Marginal Propensity to Save/ MPS)
MPS adalah perbandingan antara tambahan tabungan dengan tambahan pendapatan, atau dapat ditulis dengan rumus:

Hasrat untuk Menabung (Marginal Propensity to Save/ MPS)


Di dalam fungsi konsumsi S = –a + (1 – b)Y, maka besarnya MPS = 1 – b
Karena b = MPC, maka MPS = 1 – MPC atau MPS + MPC = 1

Contoh
Fungsi Konsumsi C = 0,8 Y + 10.000
Dari fungsi konsumsi tersebut, besarnya a = 10.000 dan b = 0,8
b = MPC = 0,8
MPS = 1 – MPC
MPS = 1 – 0,8
MPS = 0,2

Fungsi tabungan:
S = (1 – b) Y – a
S = 0,2Y – 10.000

Misalnya, besarnya pendapatan = 100.000, besarnya konsumsi sebagai
berikut.
C = 0,8 x 100.000 + 10.000
C = 90.000 dan tabungan (S) = 10.000



Titik Keseimbangan Pendapatan
Titik keseimbangan pendapatan atau BEP (Break Event Point) merupakan titik besarnya pendapatan sama dengan besarnya konsumsi. Syarat dari BEP adalah Y = C.

Karena semua pendapatan sama persis habis untuk konsumsi, pada BEP besarnya tabungan = 0 atau S = 0.

Dari soal di atas dapat kita cari titik keseimbangan pendapatannya sebagai berikut.

Titik Keseimbangan Pendapatan


Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketika pendapatan 50.000, pendapatan tersebut habis untuk konsumsi tidak ada bagian pendapatan yang dapat ditabung.



Kurva Konsumsi, Tabungan, dan Keseimbangan Pendapatan
Dari soal tersebut, kita dapat membuat kurva dari fungsi konsumsi, tabungan, dan kesimbangan pendapatan sebagai berikut.

Kurva Konsumsi, Tabungan, dan Keseimbangan Pendapatan




Sebelumnya mengenai Inflasi ini dapat menambah pengetahuan anda



Koefisien Multiplier
Nilai multiplier menggambarkan perbandingan di antara jumlah pertambahan/pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah pertambahan/pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional tersebut. Misalnya, apabila pendapatan nasional mengalami pertambahan empat kali lipat dari pertambahan pengeluaran yang pada mulanya berlaku maka nilai multipliernya adalah empat.

Jika pada suatu masa perekonomian tertentu pengusaha menambah jumlah investasi, kenaikan investasi tersebut akan menimbulkan suatu rangkaian pertambahan pendapatan nasional. Berapa kali lipat pertambahan pendapatan tersebut itulah yang disebut koefisien multiplier yang dapat dicari dengan rumus matematis sebagai berikut.

Koefisien Multiplier


Keterangan:
k = Koefisien multiplier
MPS = Marginal Propencit to Save
MPS = Marginal Propencit to Consume

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik dan membangun